Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Nullam eu est quis enim commodo aliquet. Vestibulum eleifend venenatis massa. Curabitur rutrum accumsan felis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Phasellus ut augue eu purus iaculis viverra. Maecenas vehicula dictum diam.

Tetap Bersyukur dan Tabah Walau Rugi Menghantui

Tetap Bersyukur dan Tabah Walau Rugi Menghantui


ketika pagi sudah mulai menghiasi hari, sesosok wanita tua yang bernama Ibu Gito (70 th) sudah bersiap untuk menuju pasar tradisional. Keriput tua tidak menghalangi semangatnya untuk berjuang mencari nafkah, demi kelangsungan hidupnya.
Pasar Beringharjo adalah tempat yang setia menemani Ibu Gito sebagai pedagang timbangan besi selama 30 tahun. Setiap jam 8 pagi, ia memulai duduk sambil mengipasi wajahnya agar tetap sejuk. Timbangan yang terbuat dari besi ini, dihargai Rp 200.000,- setiap buahnya. Selain timbangan, ia juga menjual barang-barang yang terbuat dari kuningan, seperti sendok, garpu, poci, seterika arang, dan uang koin tempo dulu.
Prinsip dagang jual beli diterapkan oleh wanita ini, sehingga penawaran terhadap barang tidak hanya terhadap barang yang ia jual. Biasanya yang mengunjungi adalah orang yang membutuhkan uang dan pedagang bakulan. Ketika ada orang yang ingin menjual barang kuningannya, penawaran tak lazim dilontarkan. Mereka meminta harga yang tinggi untuk barang-barang mereka yang tergolong antik. Hal ini membuat perasaan Ibu Gito sedih, tetapi senyum tetap menghiasi wajahnya. “Biasanya orang kalau nawar gak kira-kira, dan membuat hati sedih”, ujar Ibu Gito sambil tersenyum tabah.
Sekitar satu bulan ini, tidak ada pembeli yang menjamah barang dagangannya. Menunggu dan duduk dengan kaku adalah sikap yang selalu ia lakukan. Padahal, jarang sekali pedagang semacam ini yang berjualan di pasar Beringharjo. Hal ini tidak sebanding dengan perjuangan yang dilakukan wanita ini yang harus melakukan perjalanan dari Wates ke pasar Beringharjo. “meskipun saya capai, tapi saya tetap semangat dagang” ujar lagi wanita tua ini. Selain ia harus mengeluarkan biaya untuk membayar bis kota untuk menuju pasar, ia juga harus membayar lapak kecil yang disediakan pemilik toko penitipan barang, meskipun pemilik toko berbaik hati tidak menentukan harga sewa dan menyuruh Ibu Gito membayar semampunya.
Aktivitas semacam ini memang membuat Ibu gito selalu berfikir cermat untuk mengatur uang sakunya yang selalu minim, tetapi yang patut dicontoh dari wanita keriput ini adalah rasa bersyukur yang tetap tinggi terhadap Tuhan, meskipun ia selalu diliputi rasa cemas akibat jarangnya aktivitas jual beli yang ia lakukan. “walau seperti ini, saya tetap bersyukur” berkata lagi wanita ini. Fenomena seperti ini memang tidak hanya dialami oleh Ibu Gito, dan masih banyak lagi pedagang yang harus menanggung kerugian yang merupakan resiko dalam aktivitas ekonomi, Tetapi jarang ada pedagang yang sangat tabah merenungi nasib akibat sering mengalami kerugian seperti Ibu gito ini.(rng)

F. BRIAN RANGGA K. - 153070080
File Under:

0 kOmeNtaR: